KISAH TENTANG KEBENARAN DAN IBARAT

Sumber : Yiddish Folktales

Suatu hari Kebenaran pergi berjalan-jalan dengan bertelanjang diri,

selayaknya bayi yang baru dilahirkan. Namun apa yang terjadi? Orang yang

melihatnya malah berbalik lari menghindari. Tak seorang pun mau mengajaknya

mampir ke rumah mereka. Kebenaran merasa sedih dengan apa yang terjadi. Ia

lalu menemui Ibarat. Ibarat senantiasa mengenakan pakaian yang indah penuh

warna-warni. Ketika melihat Kebenaran, Ibarat berkata, “Katakan, apa yang

membuatmu sedih sobat?”

Dengan getir, Kebenaran menjawab, “Saya sedih. Sangat sedih. Usiaku sudah

sangat tua, namun tak seorang pun mau mengenaliku, bahkan menyapaku. Tak

seorang pun mau menerimaku.”

Mendengarkan hal ini, Ibarat membalas, “Orang-orang itu menghindarimu bukan

karena kau tua. Bukankah aku juga tua sebagaimana engkau. Namun, semakin tua

usiaku, semakin banyak orang yang menyukaiku. Mari, aku sampaikan satu

rahasia: Setiap orang menyukai hal-hal yang sedikit samar-samar dan cantik.

Mari, aku pinjami kau pakaian indahku ini, maka akan kau lihat orang-orang

yang menyingkirkanmu tadi akan mengajakmu ke rumah mereka, dan senang dengan

kehadiranmu.”

Lalu, Kebenaran mengikuti saran dari Ibarat. Ia mengenakan pakaian indah

yang dipinjamnya dari Ibarat. Dan, sejak saat itu, Kebenaran dan Ibarat

selalu berjalan bergandengan.

Pojok Renungan Editor: Seringkali kebenaran yang disampaikan secara langsung

terasa menyakitkan, menakutkan, dan tak dimengerti. Namun, kebenaran yang

disampaikan di balik cerita dan kisah-kisah selalu mudah diterima tanpa

harus merasa dinasehati..

Tinggalkan Balasan